Menag Apresiasi Tiga Guru Besar UIN Alauddin: Orasi Ilmiah Dinilai Setara Perguruan Tinggi Negara Maju

UIN Alauddin Online – Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi tinggi kepada tiga guru besar yang dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Senin (9/2/2026), di Auditorium kampus tersebut.

Tiga akademisi yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Dr. H. Andi Achru, M.Pd.I.Prof. Dr. H. Indo Santalia, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A.

Dalam sambutannya, Menag menyatakan kebanggaan atas kualitas orasi ilmiah yang disampaikan. Ia menilai metodologi, ketajaman analisis, serta kesimpulan yang dipaparkan para profesor menunjukkan standar akademik yang tidak kalah dengan perguruan tinggi di negara-negara maju.

“Saya sangat bangga dan berbahagia menyaksikan pidato pengukuhan tiga profesor hari ini. Rasanya tidak ada lagi perbedaan dengan yang disampaikan di negara-negara maju. Metodologinya terukur, konsepnya jelas, dan konklusinya tegas,” ujar Nasaruddin.

Pendidikan Islam Humanis dan Tantangan Umat

Dalam orasi ilmiah Prof. Andi Achru, Menag menyoroti pentingnya pendidikan Islam yang humanis, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Gagasan tersebut dinilai relevan di tengah dinamika sosial yang menuntut pendidikan agama mampu menjadi solusi peradaban.

Nasaruddin juga menyinggung adanya kesenjangan antara ajaran agama dan praktik sebagian umat yang kian melebar. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan besar bagi para guru agama dan mubalig. Karena itu, ia mengapresiasi solusi konkret yang ditawarkan dalam pidato tersebut.

Penyelarasan Teks dan Praktik Keberagamaan

Sementara itu, orasi ilmiah Prof. Indo Santalia dinilai menghadirkan perspektif baru melalui gagasan penyelarasan antara teks keagamaan dan praktik keberagamaan masyarakat.

Menurut Menag, upaya memahami dan mengontekstualisasikan kearifan lokal menjadi langkah strategis agar nilai-nilai tersebut dapat ditawarkan sebagai kontribusi Indonesia bagi peradaban global.

Pembaruan Ushul Fikih yang Kontekstual

Perhatian khusus juga diberikan pada pemikiran Prof. Abd. Rauf Muhammad Amin mengenai pembaruan ushul fikih. Nasaruddin menegaskan bahwa pembaruan fikih tidak mungkin dilakukan tanpa meninjau kembali landasan metodologisnya.

Ia mendorong agar ushul fikih tidak semata menjadi rujukan dalam membaca kitab klasik, tetapi juga difungsikan sebagai instrumen analisis untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang kontekstual, khususnya dalam pengembangan kajian maqasid al-syariah.

Pengukuhan ini menandai komitmen UIN Alauddin Makassar dalam memperkuat tradisi akademik dan kontribusi keilmuan Islam yang responsif terhadap tantangan zaman.

Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar berharap para guru besar terus memelihara tradisi keilmuan, meningkatkan prestasi, dan menghidupkan suasana akademik. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, melainkan harus menjadi produsen ilmu pengetahuan yang melahirkan gagasan-gagasan baru dan relevan dengan kebutuhan umat.

Terakhir, ia menyampaikan ucapan selamat kepada para guru besar yang dikukuhkan dan berharap ilmu yang disampaikan dapat memberi manfaat yang luas.

Media Sosial

Kontak
(0411) 841879
(0411) 8221400
sinfst[at]uin-alauddin.ac.id

Log In

Create an account