Jebakan Manfaat Pada Proposal Riset

Saat ujian proposal, satu pertanyaan singkat uji proposal (bisa) membuat mahasiswa pengaju KO telak. Poinnya singkat: Apa hal yang akan diteliti dalam penelitian ini? Mahasiswa (akan) diam bingung lama dan lalu merambah penjelasan mengambang dan tidak nyambung sebagai jawaban pertanyaan.

Hal ini lumrah karena yang bersangkutan membangun paradigma ‘riset’ sebagai membuat suatu perangkat lunak (PL) untuk menyelesaikan masalah pengguna. Pengguna butuh aplikasi pencatatan barang, lalu dibuatlah sisfo inventaris. Pengantri puskesmas butuh sistem antrian, dibangunlah website antrian dan seterusnya. Jika diibaratkan, ini tidak jauh beda dengan: Warga kelaparan lalu dibuatkanlah masakan nasi padang.

Lalu di mana unsur risetnya?

Sebagian berdalih: Tapi itu yang mereka butuhkan. Masyarakat desa anu sangat membutuhkan aplikasi berbasis website.

Memang benar kebutuhan akan PL adalah salah satu pertimbangan proposal riset. Pertimbangan akan hal urgensitas sebuah riset dilakukan. Tapi bukanlah penentu definisi pekerjaan tersebut adalah riset atau sekadar proyek PL biasa.

Bahkan jika suatu pekerjaan mengembangkan PL yang dibutuhkan secara kritis oleh seluruh penduduk dunia, yang keberadaan PL menentukan hidup-mati miliaran orang, tidaklah otomatis memasukan proyek PL tersebut sebagai riset atau penelitian. Melainkan proyek seperti itu hanya masuk kategori proyek PL biasa, BUKAN riset.

Proyek riset adalah pekerjaan meneliti sesuatu yang belum diketahui menjadi satu pengetahuan yang jelas. Penelitian berarti penyelidikan masalah yang belum diketahui menjadi pengetahuan. Jadi standar riset adalah memproduksi pengetahuan yang general (generalisasi pengetahuan). Kata kuncinya: Produksi pengetahuan, dan pengetahuan yang diproduksi adalah generalisasi terhadap kasus yang serupa.

Apakah deskripsi riset tersebut jelas?
Definisi riset sebagai kegiatan memproduksi pengetahuan dapat kita lihat dalam kasus judul yang diutarakan sebelumnya.
Pembuatan aplikasi Inventaris bukanlah riset jika argumennya: Bermanfaat dan sangat dibutuhkan pengguna. Tapi bisa menjadi riset jika memperjelas masalah risetnya misalnya:

Riset terapan: Menelisik implementasi sistem inventaris menggunakan metode MVC Laravel. Masalah atau variabel yang akan diteliti adalah tentang tingkat efisiensi reduksi kode yang bisa dicapai, Tingkat kemudahan maintenance (pengubahan kode), Kemudahan penambahan fitur, Signifikasi peningkatan performa dan variabel tambahan lain. Pengukuran pencapaian dapat diuji melalui komparasi dengan framewok lain atau komparasi dengan hasil yang telah dicapai menggunakan pengkodean dengan PHP native.

Di sini, aktivitas riset akan memproduksi pengetahuan tentang komparasi penggunaan laravel dan framework lain atau PHP native dalam implementasi program. Akan tersaji secara empiris bukti dan studi kasus sistem inventaris. Pengetahuan ini bersifat general dan dapat dijadikan referensi publik dalam memilih atau tidak memilih laravel sebagai framewok pengembangan PL.

Demikian pula jika ternyata implementasi sistem inventaris dengan laravel gagal menghasilkan performa baik, maka kita bisa melaporkan sebab musabab kegagalannya sebagai temuan riset. Ini pun tetap sebagai produksi pengetahuan riset yang bisa direferensi publik.
Jadi sekali lagi sebagai penegasan, bukan soal keterpenuhan kebutuhan pengguna pada studi kasus.

Jika menghendaki model Riset evaluasi: Mengungkap pengaruh penggunaan PL terhadapa efisiensi pengelolaan inventaris. Apakah efisiensi inventaris sigifikan dipengaruhi penggunaan PL dan bukan karena kultur kerja pegawai. Sejauh apa PL memberi penggunaan PL memberi pengaruh. Bentuk pengaruh apa yang secara empiris bisa dibuktikan, efisiensi biaya (ekonomi), efisiensi kerja (waktu), tingkat produktivitas atau hal lain apa yang bisa dipetakan dalam hubungan PL dan operasional inventaris lembaga/institusi?
Intinya mengevaluasi penggunaan PL dan menarik pengetahuan umum sebagi temuan riset dalam bentuk variabel hubungan keberadaan PL dan operasional inventaris. Pengetahuan ini berpotensi menjadi referensi bagi publik dalam melihat dan menilai penggunaan PL dalam organisasi sistem inventaris.

Analogi riset di atas juga bisa diterapkan pada kasus orang kelaparan pada contoh. Sekadar membuat dan memasak nasi padang untuk solusi kelaparan, sama sekali tidak terkategori riset.

Berbeda halnya jika aktivitas membuat nasi padang tersebut memasukan upaya mencari hubungan antara komposisi takaran setiap bumbu untuk menciptakan 3 varian rasa nasi padang yang pedas, ekstra pedas, dan tidak pedas. Maka kegiatan ini terkategori riset terapan yang memproduksi pengetahuan resep pembuatan nasi padang.
Demikian juga, bisa didesain menjadi riset evaluasi dengan objek masalah: Tingkat kegemaran konsumsi nasi padang pada pelanggan membutuhkan (pelanggan lapar).

Contoh masalah riset yang dikemukakan dalam tulisan ini mngkin sepele, tapi fokusnya bahwa riset itu: Mengungkap masalah yang belum diketahui menjadi generalisasi pengetahuan yang biasanya dirumuskan dalam bentuk hubungan variabel-variabel.

Sebagai penutup, pola pikir tentang kemanfaatan produk riset dan kepentingan pengguna bukanlah yang menentukan definisi riset. Pemecahan masalah yang menghasilakan generalisasi pengetahuan, ini yang menjadi salah satu ciri aktivitas riset.

Penulis:
Rahman, S. Kom., M.T.
Dosen Prodi SI UIN Alauddin Makassar

Log In

Create an account